INFO KEMITRAAN

Kantor Pusat :

* Jl. Pandu Raya 43 -Indraprasta II BOGOR

** No Telp/SMS untuk Order & Konfirmasi Pembayaran :0251 - 8910911

** No Telp untuk Info Mitra dan Pemasaran : 081286835759 (Basri Adhi)

** E-mail : basriadhi01@gmail.com atau misterblek@gmail.com

** TWITTER : @basri_adhi

* REKENING BANK :

*** BCA no 4780096662 a/n Ir Basri Adhi
*** MANDIRI no 133-00-1084284-7 a/n Ir Basri Adhi
*** Selain no rekening di atas, adalah bukan nomor rekening kami


15 February 2009

Sukses dan Gagal, itu karena diri sendiri-bukan lingkungan.

Salah seorang mitra saya, tak usahlah saya sebut namanya, Sabtu lalu menelepon saya dan mengabarkan bahwa dia akan menutup gerainya. Alasannya spesifik dan jelas, rugi karena gerainya sepi tak ada yang mampir ke situ (atau bisa dibolak-balik : gerainya sepi karena tak ada yang mampir hingga rugi). Skema yang diambilnya waktu itu, beli putus -- dengan kelonggaran dari kami -- bisa mencicil nilai paket dalam waktu 6 bulan. Sekarang jangankan untuk melunasi paket, untuk memutar roda bisnisnya saja sudah tak bisa. Alhasil, bukan untung yang dia dapat, tapi buntung : karena akhirnya berhutang kepada kami.

Setiap pembukaan gerai, kami selalu memberikan perlakuan yang sama pada tiap mitra. Bagi yang belum memiliki usaha sebelumnya, kami akan melakukan survey lokasi terlebih dahulu. Survey ini, selain memastikan lokasi memiliki "market" juga memastikan apakah calon mitra "benar-benar bersungguh-sungguh ingin menjalankan usaha ini". Jadi, dalam kasus mitra kami ini, kami melihat dua kriteria ini secara standar, sebagaimana perlakuan kami pada calon mitra lain.

Lokasinya, sebenarnya cukup menjanjikan, terletak di depan lapangan dan mesjid, di dalam kompelks yang sudah hidup dan -luar biasanya - dikepung dua sekolah besar.

Saya jadi teringat postingan terdahulu saya di blog ini ; "Yang Sukses, Yang Gagal". Sejak awal, mitra kami ini selalu menjadikan problem sebgai orientasi pemikiran, bukan "solving the problemnya". Indikasinya, pada hari pertama pembukaan, dengan semangat dia membagikan brosur ke mana-mana : alhasil pembeli berduyun-duyun. Namun, tak ada komitmen untuk "berbagi" dengan menyerahkan pengelolaan sehari-hari pada karyawan. Semua di handle sendiri; alasannya omzet belum cukup.

Pendekatan kami selalu terbalik. Serahkan persoalan masak-masak dan jaga konter pada karyawan, lalu kita - sebagai pemilik- sibuk mencari cara supaya omzet naik...berpromosi, berpromosi dan berpromosi. Ketika kita terjebak pada rutinitas -yang sebenarnya tak perlu- maka bisa diyakinkan usahanya tak akan berkembang. Lalu, dengan adanya karyawan, kita akan selalu terpacu agar kita bisa terus berbagi, ikut menghidupi orang lain yang jauh lebih perlu uang 200-300 ribu dibandingkan kita.

Jadi, karena sibuk kurang jelas, gerainya terbengkalai, buka tak tentu jam-nya (bahkan harinya), sering ...buka gerainya, tapi ditinggalkan tanpa penunggu, sehingga (calon) pembeli urung transaksi.

Maka, ini adalah pelajaran penting bagi kami. Bahwa benar kata pameo, bahwa sukses berangkatnya dari kita sendiri...begitu juga kegagalan : jangan terburu menyalahkan lingkungan sekitar kita sebagai penyebab kegagalan. Bila kita yakin sukses, maka kita akan sukses. Lalu, berbagi-lah. Tak ada yang bisa kita kerjakan sendiri, sesempurna apapun kita. Rajinlah berinteraksi, bersilaturahhim-- jangan menyimpan problem sendirian dalam hati. Di sanalah esensi ilmu banyak kita dapat...itu kenapa agama kami menganjurkan kita rajin ber-silaturahhim.

Saya melihat ini pada mitra-mitra kami yang sukses...Pak Husen di Garut, pak Vicks di Bogor, bu Cindy di Semarang dan Pak Krishna di Surabaya. Kami harus lebih banyak belajar dari meraka...dan terus berkaca melakukan instrospeksi. Adakah kami sudah memenuhi kriteria pribadi yang "siap sukses"?

Semoga anda semua sukses.