INFO KEMITRAAN

Kantor Pusat :

* Jl. Pandu Raya 43 -Indraprasta II BOGOR

** No Telp/SMS untuk Order & Konfirmasi Pembayaran :0251 - 8910911

** No Telp untuk Info Mitra dan Pemasaran : 081286835759 (Basri Adhi)

** E-mail : basriadhi01@gmail.com atau misterblek@gmail.com

** TWITTER : @basri_adhi

* REKENING BANK :

*** BCA no 4780096662 a/n Ir Basri Adhi
*** MANDIRI no 133-00-1084284-7 a/n Ir Basri Adhi
*** Selain no rekening di atas, adalah bukan nomor rekening kami


04 November 2008

Menjadi Orang yang Rendah Hati


Rendah hati sangat berbeda dengan rendah diri. Rendah hati lebih melukiskan kelapangan hati, keterbukaan jiwa untuk belajar dan menjadi pribadi yang sok tahu dan sombong. Humble-demikian orang barat bilang.

Seorang Bambang Rachmadi, franchisee McD di Indonesia, tahun 1989 atau setelah setahun menghilang paska mundurnya dia sebagai pucuk pimpinan tertinggi sebuah bank Swasta besar Indonesia, ditemukan koleganya sedang mengelap meja di sebuah gerai McD di Singapura; lengkap dengan seragam kaos McD yang kekecilan mengingat postur tubuhnya. Tak cuma mengelap meja, mengepel lantai dan membersihkan WC -yang dikatakannya pekerjaannya tanpa otak- pun dijalaninya. Adakah dia jatuh miskin? Tidak ! itu adalah proses yang harus dijalaninya sebelum dinyatakan dapat mengambil franchise McD - yang notabene harganya milayaran rupiah.

McD mensyaratkan sang franchisee untuk belajar...salah satunya belajar menjadi humble, rendah hati meski memliliki uang milyaran untuk membeli franchise. Karena dengan "humble" hati kita jauh lebih terbuka menerima ilmu apapun dalam kondisi apapun.

Dalam perjalanan saya mengelola bisnis ini, kadang saya merasa sangat malu pada pribadi seperti pak Bambang Rachmadi. Perasaan "lebih tinggi" dari orang yang kita hadapi membuat kita kadang "sombong" dan "meremehkan". Perasaan sombong adalah kata lain dari tinggi hati, dan kecenderungan kita saat tinggi hati adalah tidak mau menerima kekurangan...atau tidak mau belajar. Kecenderungan lain saat tinggi hati adalah mencari kambing berwarna hitam, karena orang lain pasti salah-kita pasti benar.

Tak terkecuali beberapa mitra saya. Sering tak menghargai nilai uang yang dikeluarkan untuk investasi mereka membeli paket usaha kami. Dalam menjalankan usaha, mereka meremehkan, tak mau belajar dan juga tak mau meluangkan waktu untuk menjalankannya sendiri. Bahkan, ada mitra yang akhirnya tutup, hingga akhir usahanya -bahkan- tak sekalipun pernah menengok outletnya.

Padahal secara "finansial" posisi mereka dibandingkan pak Bambang Rachmadi bak bumi dengan langit...jauh sekali.

Jadi, kuncinya adalah rendah hati, dan banyak menerima masukan dan terus belajar. Dibalik penciptaan kopi yang diblender ada banyak proses, dibalik penciptaan saos spesial ada banyak bumbu terlibat. Dan belajarlah untuk itu, dan mengembangkan. Jangan segan turun sendiri ke lapangan, menyapa pelanggan, mengelap outlet; meski anda punya 1000 karyawan yang membantu.

Karena setiap bisnis memiliki soul-nya masing-masing. Dan anda-sebagai pemilik bisnis- adalah pemilik soul dari bisnis anda...bukan karyawan anda. Mulai sekarang, terjun, pelajari, cermati dan kembangkan....tentu dengan segala kerendahan hati.

Semoga sukses.