INFO KEMITRAAN

Kantor Pusat :

* Jl. Pandu Raya 43 -Indraprasta II BOGOR

** No Telp/SMS untuk Order & Konfirmasi Pembayaran :0251 - 8910911

** No Telp untuk Info Mitra dan Pemasaran : 081286835759 (Basri Adhi)

** E-mail : basriadhi01@gmail.com atau misterblek@gmail.com

** TWITTER : @basri_adhi

* REKENING BANK :

*** BCA no 4780096662 a/n Ir Basri Adhi
*** MANDIRI no 133-00-1084284-7 a/n Ir Basri Adhi
*** Selain no rekening di atas, adalah bukan nomor rekening kami


06 August 2008

Karyawan Paradoks (Part II)


Perkenankan saya berbuka-buka. Blak-blakan. Setelah tulisan saya yang bertajuk "Karyawan Paradoks" memancing polemik yang seru, ada yang menafsirkan ungkapan saya dalam tulian itu cuma narsisme saya saja, ada yang menanggapi positif, tapi tak kurang ada yang negatif. Bebas saja, namanya juga polemik. Maka kini saya akan menulis hal yang kurang lebih sama : Karyawan Paradoks Part II. Sekuel, tidak mau kalah dengan film-film box office.

Dalam setiap kesempatan bertemu calon mitra, ada 3 hal yang selalu saya sampaikan sebagai hal paling krusial saat akan memulai usaha sendiri, terutama bila usahanya mnjadi mitra usaha saya: menjual makanan. Tiga hal itu adalah : Lokasi, SDM dan modal.
SDM bagus, tanpa lokasi yang memadai masihlah bisa dikerjain...dipermak-permak dikit, usaha berkeringat sedikit, Insya Allah jadi.
Tapi, lokasi bagus tanpa SDM yang bagus...percuma rasanya. Capek saja yang akan mendera, capek fisik dan mental.

Ijinkan kembali saya berbagi cerita. Dua mitra saya sedang menghadapi masalah dengan karyawannya. Satu mitra saya, karyawan yang direkrutnya, bekerja dengan pola pas bandrol. Pokonya tiap hari dapat ongkos dan uang buat beli rokok, selesai sudah. Inisiatifnya nol bandrol. Mitra saya menerapkan program bonus pemberian softdrink untuk pembelanjaan tertentu, tidak jalan, karena si karyawan bahkan bertanya dimana bisa mendapatkan batu es saja tak berminat. Ketika wawancara, kelihatan sekali bahwa si kandidat ini memerlukan materi yang amat sangat, maklum sudah 6 tahun sejak lepas sekolah menengah dia menganggur, ayah buruh tani dengan penghasilan tak pasti, ibu tak bekerja dengan jajaran 5 orang saudara 9yang semuanyanya belum bekerja). Tapi, inilah paradoks, bekerja buat dia adalah beban yang maha berat : setidaknya ini selalu tersirat dari kata-katanya.

Mitra saya yang satu lagi, sudah berganti karyawan untuk 3 ketiga kali. Upaya memberdayakan pemuda penganggur di lingkungan sekitar rumahnya berbuah pahit. Anak-anak muda yang dilihatnya hanya begadang, atau berkumpul tak ada juntrung di mulut gang, menjadi paradoks ketika diberi lapangan kerja. Malu menenteng bungkusan isi roti, lalu banyak ijin selepas menerima gaji, bekerja tak sepenuh hati--adalah paradoks yang dihadapi mitra saya.

Jadi, karyawan paradoks itu memang ada. Saya sengaja tak cerita soal kisah sukses atau apa, nanti khawatir polemiknya terpeleset lagi.

Jadi kalau anda punya pengalaman menangani para paradoks ini dengan baik, tolonglah berbagi dengan kami. Akan menggembirakan bila itu pengalaman pribadi, bukan kata orang atau sahibul hikayat. Sebelumnya, ijinkan saya berterima kasih terlebih dahulu