INFO KEMITRAAN

Kantor Pusat :

* Jl. Pandu Raya 43 -Indraprasta II BOGOR

** No Telp/SMS untuk Order & Konfirmasi Pembayaran :0251 - 8910911

** No Telp untuk Info Mitra dan Pemasaran : 081286835759 (Basri Adhi)

** E-mail : basriadhi01@gmail.com atau misterblek@gmail.com

** TWITTER : @basri_adhi

* REKENING BANK :

*** BCA no 4780096662 a/n Ir Basri Adhi
*** MANDIRI no 133-00-1084284-7 a/n Ir Basri Adhi
*** Selain no rekening di atas, adalah bukan nomor rekening kami


07 July 2008

Karyawan Paradoks...berbagi pengalaman soal mengelola karyawan


Ijinkan saya berbagi pengalaman. Khususnya soal mengelola karyawan.

Saya juga dulu mantan karyawan. Mulai bekerja sekitar 15 tahun lalu (tahun 1994, bulan oktober tepatnya). Sebagai fresh graduate S-1, tidak punya koneksi, orangtua bukan pengusaha papan atas, saya memulai karir sebagai sales biasa, kebetulan produknya koran. Gaji pertama ? 350 ribu rupiah. Pekerjaannya tidak kenal waktu, apalagi kalau koran bakalan terlambat, sebagai sales saya harus mau datang ke percetakan jam 2 pagi (jaman dulu panggilannya pakai pager—yang pakai hape baru manajer saja). Lalu jam 3 pagi ikut berkeringat mengepak koran supaya bisa lebih cepat diedarkan ke agen.

Semua saya lakoni dengan lapang dada, maklum, saya harus tahu diri bahwa saya di Jakarta ini tak punya apa-apa, dan tak punya siapa-siapa. Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Dengan apa yang saya miliki, saya berusaha memberikan yang terbaik buat perusahaan, dan saya mencapai posisi manajer tepat pada usia 25 tahun, saat 3 tahun masa kerja saya. Perusahaan demi perusahaan—yang menawari saya bekerja—telah saya lewati, hingga posisi tertinggi sebagai General Manajer saya tempati saat saya berusia 33 tahun. Gaji? Delapan digit.

Tidak ada yang istimewa dari semua yang saya capai, karena semuanya berjalan atas dasar ikhlas, dan kerja keras. Itu saja modal saya.

Kini, saat saya mengelola sebuah usaha sendiri, saya mengalami sebuah paradoks. Kebanyakan karyawan saya –yang menurut penglihatan pribadi – berada di tataran yang “lebih membutuhkan materi” dibandingkan saya dulu. Kebanyakan adalah penganggur, yang ketika melamar kerja tak berpenghasilan tetap, bahkan sebagian sudah berkeluarga. Paradoks, karena saat diterima kerja, tidak ada etos kerja positif yang ditunjukkan. Mentalitas gampang capek, tidak mau repot hampir menderita karyawan-karyawan ini. Akibatnya, mereka belum mendapatkan apa-apa ketika saya memberhentikan mereka.

Saya tak tahu ini kasus khusus atau tidak. Barangkali milis-er yang lain bisa ikut berbagi. Tapi, benar, dari 100% karyawan saya, 50% bertahan karena mereka cenderung lebih kreatif, proaktif, mau belajar dan lebih tahan banting. Dan 50% yang bertahan, makin bisa bertahan karena mendapatkan “materi lebih” karena efek ke-rajin-an mereka. Sisanya? Rata-rata bertahan tak lebih dari dua bulan: saya menyebut mereka karyawan paradoks. Sikap pengeluh, kurang bersyukur dan tidak mau bekerja keras membuat mereka tak bisa bertahan. Sikap mental lebih suka ada di rumah tidak mengerjakan apapun, tapi tidak capek-ketimbang bekerja keras menghasilkan uang : adalah sikap yang sama sekali tidak saya mengerti.

Dan saya selalu tidak pernah mentolerir sikap mental seperti ini. Biasanya-seperti sudah saya sebut di atas – tak lebih dari dua bulan “karyawan paradoks” seperti ini sudah pasti hengkang dari perusahaan saya.

Inilah dinamikanya mengelola perusahaan saya sendiri, barangkali. Saya tak tahu yang lain. Karena ini adalah usaha yang saya bangun dengan darah dan airmata sendiri, saya kadang –merasa- berlaku cukup bengis menghadapi para “karyawan paradoks”. Dan ini –kembali paradoks- dihadapkan pada data pengangguran yang makin tinggi. Bagaimana dengan anda ?

Basri Adhi